… berhenti sejenak

“Tak pernah air melawan qudrat yang ALLAH ciptakan untuknya, mencari dataran rendah, menjadi semakin kuat ketika dibendung dan menjadi nyawa kehidupan. Lidah api selalu menjulang dan udara selalu mencari daerah minimum dari kawasan maksimum, angin pun berhembus. Edaran yang pasti pada keluarga galaksi, membuat manusia dapat membuat mesin pengukur waktu, kronometer, menulis sejarah, catatan musim dan penanggalan.
Semua bergerak dalam harmoni yang menakjubkan. Ruh pun – dengan karakternya sebagai ciptaan ALLAH – menerobos kesulitan mengaktualisasikan dirinya yang klasik saat tarikan gravitasi ‘bumi jasad’ memberatkan penjelajahannya menembus hambatan dan badai cakrawala.” (Ust. Rahmat Abdullah)

Munculnya manusia dengan amanah ‘abid dan khalifah membuat manusia menjadi mulia dibandingkan makhluk lainnya. harus selalu mengisi energi dalam dirinya. Energi yang akan selalu mengisi ruhnya untuk tetap bergerak meskipun dia berada dalam keterserakan. Dalam lingkaran kebutuhan sehari-hari. Amanah dakwah adalah amanah yang mulia, yang dapat membuat makhluk ciptaan lainnya menjadi mundur saat menerima amanah tersebut. Menarik bahwasanya Islam memandang kondisi manusia sebagai satu totalitas dalam konsepnya yang padu; sebagai hamba Allah SWT dan khalifah-Nya di dunia. Manusia sebagai makhluk yang keberadaannya di alam semesta ini, secara fithrah tidak terpisah dari sistem universal. Manusia diciptakan Allah sebagaimana Ia menciptakan makhluk yang lain, tunduk kepada hukum dan berbagai ketentuan yang bersifat universal.

Dalam Islam, manusia digambarkan sebagai makhluk yang diciptakan dalam keadaan ”lemah” (QS 4:28), bentuk seimbang lagi sempurna (QS 95:4). Manusia diciptakan dari tanah liat dan lumpur (QS 15:26), dan kemudian ditiupkan ruh di dalamnya. (QS 15:29).

Di satu sisi, gambaran tersebut mencerminkan adanya watak spiritualitas dan transendental yang ingin mencapai kesempurnaan, di sisi lain mencerminkan adanya watak material yang lemah dalam menghadapi hambatan kosmis. Sejatinya, manusia adalah sebuah totalitas yang sarat dengan energi , yang disusun secara spesifik dan unik.

Watak spiritual dan transendental yang tersimpan di dalamnya merupakan energi yang dapat mempertahankan kedudukannya dan memenuhi kewajibannya dalam sistem universal. Ibnu Qayyim melukiskan energi pengetahuan manusia sebagai makhluk yang mempunyai dua kekuatan sekaligus menjadi prasyarat mencapai kebahagiaan: kekuatan analisis ilmiah (teoretis) dan kekuatan melaksanakan kehendak (praktis).

Energi itulah yang kemudian akan selalu menjaga manusia untuk bisa mengemban amanah dakwah yang ada di pundak manusia sekarang. Sejak era Nabi dan sahabatnya, hingga kurun kita sekarang—bahkan hingga Allah mewariskan dunia ini, amanah dakwah tidak sunyi dari aneka ragam gempuran, benturan dan rintangan, baik eksternal maupun internal. Dari hari ke hari, dari saat ke saat, bahkan dari generasi ke generasi, tantangan dan sandungan dakwah terus saja menghadang. Sedemikian beratnya hantaman itu hingga tak jarang di antara juru dakwah kita pun oleng dan undur diri dari barisan kafilah suci ini. Padahal tugas agung yang merupakan warisan para Nabi dan Rasul ini tetap harus kita jalani, yaitu menjaga kesegaran rohani agar selalu smart dalam menjalankan tugas luhur dakwah.

Seluruh sandungan yang terjal yang ditemui dalam dakwah itu mau tidak mau harus dihadapi oleh para juru dakwah. Karena kalau banyak manusia yang mempersepsi kehidupan ini sebagai sebuah pertempuran, maka hakikat dakwah itu sendiri adalah sebuah pertempuran, yakni pertempuran antara kebenaran dan kebatilan ( ash-shira‘ bainal-haq wal-bathil ).

Kemenangan dakwah yang diperjuangkan para pendukungnya adalah kebaikan hidup di dunia dan akhirat. Namun kemenangan bukan hanya harapan semata, tapi juga tanggung jawab bagi para pendukung dakwah. Karena itu, kita harus menyiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk meraih kemenangan itu. Dalam hal ini, Allah berfirman: “Wahai Nabi, kobarkanlah semangat para Mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kalian, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antara kalian, mereka dapat mengalahkan seribu dari orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti” (al-Anfal [8]: 65).

Hikmah dari ayat ini tegas menyatakan urgensi kesiapan moralitas (isti’dad ma’nawi) sebagai modal pertama yang harus dipersiapkan maksimal. Sabar—dalam pengertiannya yang utuh—adalah salah satu bentuk isti’dad ma’nawi yang diperlukan untuk melipatgandakan mutu kekuatan dan juga untuk menutup celah-celah kelemahan.

Adalah kebiasaan para Nabi untuk memelihara rohani dan moralitas (ri’ayah ma’nawiyah) barisan tentara Allah (jundullah) sebelum menuju medan jihad. Dengan modal kekokohan moralitas (matanah ma‘nawiyah), maka setiap kader dakwah akan mampu menampilkan syakhsiyah rabbaniyah -nya sepanjang proses pertarungan.

Dari moralitas yang kokoh (ma‘nawiyah matinah) inilah akan lahir berbagai perbuatan baik (af‘alul-khair) yang dibutuhkan dalam perjuangan dakwah. Artinya, moralitas yang tangguh akan mampu memproduksi berbagai amal kebajikan, yang menjadi jalan bagi tercapainya kemenangan.

Tentunya, refleksi dakwah tersebut tidak akan menyemangati kita seandainya memang kita tidak pernah menyediakan ruang kosong dalam hati-hati kita akan ma‘iyatullah atau kesadaran bahwa Allah senantiasa menyertai kita. Keinsafan inilah yang memompakan optimisme yang besar bagi para ansharud-da‘wah (aktivis dakwah).

Ma’iyatullah telah diberikan kepada kepada Rasul-Nya SAW dalam situasi yang sulit. Tetapi bukan secara gratis tanpa investasi ‘amal jihadi’. Adalah Siti Khodijah ra sebagai saksi atas kepatutan ma’iyatullah untuk Rasul-Nya. Sebagaimana penuturannya, “Demi Allah, Dia tidak akan pernah menyia-nyiakan engkau, sebab engkau gemar bersilaturahmi, suka menolong orang lemah, membela orang yang dizhalimi, menyantuni orang tak punya, serta tampil membela kebenaran”. Sebuah hadist Qudsi riwayat Syaikhani menyebutkan bahwa Allah berfirman: “Tidak ada amal hamba-Ku yang lebih aku sukai kecuali menjalankan apa-apa yang telah aku perintahkan. Dan ketika hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku sudah mencintainya maka Aku yang menjadi (menjaga) telinganya yang dengan telinga itu ia mendengar, Aku menjadi matanya yang dengan mata itu ia melihat, Aku menjadi tangannya yang dengannya ia memukul dan Aku menjadi kakinya yang dengannya ia melangkah. Jika hamba-Ku mendekat kepada-Ku sejengkal niscaya Aku mendekat kepadanya sehasta, jika ia mendekat lagi kepada-Ku sehasta niscaya Aku mendekat kepadanya sedepa dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan maka Aku akan datang kepadanya sambil berlari”.
Tidak ada imajinasi yang paling baik dan indah daripada memikirkan ciptaan Allah SWT dan ayat-ayat-Nya. Tidak ada kata yang lebih indah dari menyebut asma Allah SWT, laa ilaaha illallah, subhanallah atau astaghfirullah. Tidak ada sumber kekuatan dan energi yang lebih dahsyat daripada laa haula wala quwwata illa billah.

Pada akhirnya, ma’iyatullah-lah yang akan menciptakan sifat optimisme terhadap masa depan yang merupakan modal manusia dalam meraih kebahagiaan. Istiqamah setelah beriman adalah sikap konkret manusia yang dapat mencerahkan masa depannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s